Marissa Haque Fawzi: "Hukum, Biologi, dan Matematika dalam Hidupku di IPB"

Marissa Haque Fawzi: "Hukum, Biologi, dan Matematika dalam Hidupku di IPB"
Marissa Haque Fawzi: "Hukum, Biologi, dan Matematika dalam Hidupku di IPB"

Prof.Dr. Meuthia Hatta & Dr. Marissa Haque Fawzi

Prof.Dr. Meuthia Hatta & Dr. Marissa Haque Fawzi
Prof.Dr. Meuthia Hatta & Dr. Marissa Haque Fawzi

timor-leste-asia-map marissa haque & ikang fawzi

timor-leste-asia-map marissa haque  & ikang fawzi
timor-leste-asia-map marissa haque & ikang fawzi

Study Hard and Working with Love (Endah Agustiana, PhD & Dr. Marissa Haque Fawzi) @Marissa_MES

Study Hard and Working with Love (Endah Agustiana, PhD & Dr. Marissa Haque Fawzi) @Marissa_MES
Study Hard and Working with Love (Endah Agustiana, PhD & Dr. Marissa Haque Fawzi) @Marissa_MES

Zenilda Xanana Gusmao, PhD, Endah Agustiana PhD, and Dr. Marissa Haque Fawzi, Dili, Timor Leste, ma

Zenilda Xanana Gusmao, PhD, Endah Agustiana PhD, and Dr. Marissa Haque Fawzi, Dili, Timor Leste, ma
Zenilda Xanana Gusmao, PhD, Endah Agustiana PhD, and Dr. Marissa Haque Fawzi, Dili, Timor Leste, march 2012
Tampilkan postingan dengan label isabella fawzi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isabella fawzi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

Bersahabat dengan Suami Sendiri di Usia Emas itu Indah: Marissa Haque Ikang Fawzi

Sumber: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah

Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fauzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.
"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).
Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.
"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.
Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer) - See more at: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah#sthash.gfsBcrFo.dpuf

Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fawzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.

"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).

Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.


"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.

Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer) 


Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fauzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.
"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).
Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.
"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.
Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer) - See more at: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah#sthash.gfsBcrFo.dpuf
Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fauzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.
"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).
Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.
"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.
Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer) - See more at: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah#sthash.gfsBcrFo.dpuf
n Edward




Keliling Indonesia, Marissa Haque lebih dikenal sebagai istri penyanyi rock, Ikang Fawzi. Bukannya kesal, ia justru senang.





Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fauzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.
"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).
Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.
"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.
Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer)
- See more at: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah#sthash.gfsBcrFo.dpuf



Bersuamikan Rocker, Marissa Haque Merasa Dunia Makin Indah

  • Comments 0
  • Kamis, 27 Maret 2014 12:10

Julian Edward




Keliling Indonesia, Marissa Haque lebih dikenal sebagai istri penyanyi rock, Ikang Fawzi. Bukannya kesal, ia justru senang.





Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fauzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.
"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).
Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.
"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.
Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer)
- See more at: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah#sthash.gfsBcrFo.dpuf



Bersuamikan Rocker, Marissa Haque Merasa Dunia Makin Indah

  • Comments 0
  • Kamis, 27 Maret 2014 12:10

Julian Edward




Keliling Indonesia, Marissa Haque lebih dikenal sebagai istri penyanyi rock, Ikang Fawzi. Bukannya kesal, ia justru senang.





Liputan6.com, Jakarta Marissa Haque mengaku makin jatuh cinta dengan sang suami, Ikang Fauzi. Pasalnya, setiap pergi ke pelosok Indonesia, ia justru dikenal sebagai istri sang rocker. Maklum, di era 80'an, nama Ikang begitu membahana sebagai musisi rock papan atas. Apalagi, Ikang juga punya lagu yang melegenda, yakni Preman.
"Alhamdulillah beruntung benar saya bersuamikan penyanyi rock, dunia jadi semakin indah. Di sana saya lebih dikenal sebagai istri Ikang Fawzi," ujar Marissa di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/3/2014).
Icha, begitu Marissa disapa, baru saja pulang dari Bengkulu dalam rangka mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif 2014. Dalam sosialisasinya tersebut, Icha tak lupa membagikan CD lagu terbaru karya sang suami kepada masyarakat setempat.
"Saya beruntung mendapatkan Dapil Bengkulu yang berisi masyarakat majemuk dengan tingkat keramahan tinggi seperti masyarakat di pulau Bali. Sangat menghargai pendatang dan orang luar yang mau mengabdi untuk wilayah dan masyarakatnya," imbuh artis 51 tahun tersebut.
Selama di Bengkulu, Icha `bersahabat` dengan dua kijang yang hidup di lingkungan kantor Balaikota Bengkulu. Dua hewan itu membantu Icha dalam menghilangkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
"Setiap pagi dan petang, saya menyapa dua makhluk Allah itu. Ternyata mujarab untuk terapi kelelahan dan kesedihan saya saat jauh dari suami dan kedua putri tercinta saya," tutupnya.
(mer)
- See more at: http://showbiz.liputan6.com/read/2028723/bersuamikan-rocker-marissa-haque-merasa-dunia-makin-indah#sthash.gfsBcrFo.dpuf

Rabu, 09 Januari 2013

Alhamdulillah Kemarin di Kelas Sempat Ulas Isi Buku dari John Perkins Marissa Haque Ikang Fawzi

Alhamdulillah kemarin di kelas angkatan 10 IEF Usakti sempat mengulas isi buku dari John Perkins tentang pengakuan seorang ‘economy hit man‘. Semoga dapat menjadi pencerahan adanya. Dan ada celah bagi bangkitnya konsep dalam sistem ekonomi Islam untuk dunia. Amiiin…



Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, John Perkins’ Book, Confession of the Econonomic Hit Man, 2013


Sumber: http://marissahaque.blogdetik.com/2013/01/10/alhamdulillah-kemarin-di-kelas-sempat-ulas-isi-buku-dari-john-perkins-marissa-haque-ikang-fawzi/

 

Alhamdulillah Kemarin di Kelas Sempat Ulas Isi Buku dari John Perkins: 
Marissa Haque Ikang Fawzi

Rabu, 03 Oktober 2012

“Basu Swastha Dharmmesta: Making Batik and Marketing It (dalam Marissa Haque Ikang Fawzi)”



Sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2012/10/03/basu-swastha-dharmmestha-making-batik-and-marketing-it.html
 
(JP/Slamet Susanto)
(JP/Slamet Susanto)

Professors of economics with marketing expertise can be found at various universities, but economists engaged in the art of batik painting are rare. Among the few is Basu Swastha Dharmmestha.

Combining marketing and art is what the man with an MBA who is a marketing lecturer at Gadjah Mada University (UGM) in Yogyakarta has been doing.

Having learned to draw during childhood, in his high school years Basu also practiced batik painting while apprenticed with Javanese dance maestro and batik artist Bagong Kussudiardjo in his workshop in Yogyakarta.

Basu continued to paint with his first work, Burung Hantu (Owl), produced in 1968, followed by Keburukan vs Kebaikan (Evil vs Virtue, 1973), Ikan (Fish, 1980) and Dua Prajurit Pandawa (Two Pandava Soldiers, 1985).

From 1985 to 2010, Basu went on hiatus from painting to focus on teaching.

“In 2010, I visited an exhibition at the Jogja Expo Center (JEC). I was given a canvas to paint. Since then I’ve started batik painting again,” he said. Now with his hundreds of batik works, Basu hopes that through pictures, batik — already recognized by UNESCO as a world heritage item — will become even more popular around the world.

The demise of batik figures in Yogyakarta such as Bambang Utoro, Bagong Kussudiardjo and Amri Yahya has further motivated him. “I want to keep learning and painting to succeed the batik specialists, especially after the passing of Amri Yahya,” said Basu.

Basu avoids being trapped in certain batik design schools. His paintings constitute a blend of contemporary, naturalistic and abstract elements, all in a decorative style.

Through batik images, Basu also wishes to convey a message of peace. His fish motifs, for instance, depict the dynamic sea animals’ ability to adapt rapidly.

“Conflict is unnecessary. Adapting ourselves to current conditions and the world is something beautiful. It’s the philosophy of my fish patterns,” said the father of four.

Apart from fish, Basu also has adopted many wayang (shadow puppet) characters, particularly the Pandava brothers of the Hindu epic Mahabharata. With their lofty values, wayang figures are also seen as compatible with the science of marketing.

“We should identify our consumers. Europeans are fond of ethnic objects and wayang designs are ethnic in nature,” he said. Without a doubt, his wayang canvases are being collected by his overseas friends and foreign tourists.

“Such works will further globalize batik while communicating the noble values of wayang and the high integrity of the Pandavas as models of excellent conduct,” he said.

Basu shares his artistic talent with his family, related by blood to the late distinguished choreographer and batik painter Bagong Kussudiardjo.

To mark his return to the art world, Basu held a solo exhibition at the Koesnadi Hardjasumantri Cultural Center at UGM recently, displaying 54 works from 1968 to 2012 under the theme “The awakening of batik painting to make the world worth living”.

A book, Batik Lukis Basu SD (Batik Paintings of Basu SD), written by artists Marissa Haque and Meta Ayu Thereskova, was also launched at the event.

“I’m very interested in his work and feel grateful for participating in the efforts of Basu Swastha, an economist who combines marketing science and art,” Marissa said.

Today, the professor divides his time between teaching and art. “I have my family’s support. After retirement I’m going to be focusing on the art of batik painting and make batik even more famous the world over,” he said.

“Basu Swastha Dharmmesta: Making Batik and Marketing It (dalam Marissa Haque Ikang Fawzi)”

Minggu, 16 September 2012

“Kami Bangga Melihat Penampilan Putra Pertama Presiden SBY: Ikang Fawzi & Marissa Haque”

 

inspirasi_mannheim_jerman_barat_ikang_fawzi__marisa_haque_pg1
Di masa depan kita semua butuh pemimpin seperti putra sulung Presiden SBY, yang rekaman pada youtube.com ini menginspirasi keluarga kecil kami yang terdiri dari Ikang dan Marissa serta Isabella dan Chikita.

Selamat Pak Presiden dan Bu Ani, pendidikan untuk kedua putranya subhanallah luar biasa. Kami akan meniru seluruh langkah positif sebagai contoh hidup yang telah diberikan kepada masyarakat Indonesia secara luas.

 
http://www.youtube.com/watch?v=64kwnP3V9KA&feature=related



Semoga kebaikan yang ditunjukkan berkelanjutan adanya.

Doa, Ikang Fawzi & Marissa Haque


“Kami Bangga Melihat Penampilan Putra Pertama Presiden SBY: Ikang Fawzi & Marissa Haque”

Rabu, 22 Agustus 2012

Pasca Program di Timor Leste: "Dulu saat Kuliah 2003 Saya Legislatif PDIP, 2012 Saya Bacaleg PAN dan Sudah Doktor "

0ae04f3b17f901d5baa60401411d9596_marissa-haque-diajak-ikang-fawzi-masuk-pan_600x336

Sumber: http://dominikadanmarissa.blogdetik.com/

Dulu saat kuliah film di Athens, Ohio, Amerika Serikat pada tahun 2003 saya terpilih menjadi anggota Legislatif dari PDIP, dan sekarang pada tahun 2012 saya dipersiapkan oleh Pak Hatta Rajasa untuk menjadi Bacaleg PAN.

Tiba-tiba saya teringat kepada Dominika Dittwald sahabatku dulu saat kuliah di sana, Dominika sudah MFA dan saya tidak menyelesaikan sekolah filmku karena harus mengabdi kepada rakyat di Senayan.

Namun atas ijin Allah dan doa semua kerabat dan sahabat yang dekat di hati, hari ini alhamdulillah pendidikan saya mumpuni. Sudah menjadi Doktor dan siap insya Allah menjawab tantangan zaman.  

Thank You Allah...
6984ee2aaef7552dbc59b3dac09f1db7_dominika-dittwald-mfa-and-dr-marissa-haque-fawzi-sh-mhum-mba-mh_600x574


Dominika Dittwald dan Marissa Haque Fawzi: Persahabatan adalah Selamanya




Marissa Haque Fawzi:  "Dulu saat Kuliah 2003 Saya Legislatif PDIP, 2012 Saya Bacaleg PAN dan Sudah Doktor "

Senin, 16 April 2012

"Marissa Haque: Suamiku Ikang Fawzi Alhamdulillah di Panggung Selalu Enerjik & Terus Berkarya"


Minggu, 15 April 2012
Ikang Fawzi Enerjik di Panggung & Terus Berkarya 
Cakung, Wartakotalive.com
Sumber: http://www.wartakotalive.com/detil/berita/79529/Ikang-Fawzi-Enerjik-di-Panggung-Terus-Berkarya 


Meski usia sudah kepala lima, tak membuat penyanyi rock Ikang Fawzi (52) loyo saat beraksi di panggung dan juga berkarya. Rocker yang memiliki ciri khas suara serak-serak ini terlihat masih tetap energik berkolabarasi bersama Platinoem Band.

Seperti diketahui, Platinoem Band menggarap lagu The Winner yang dilantunkan bersama Ikang untuk Ost film Negeri Lima Menara yang cukup sukses di pasaran.

"Bukan berarti saya lupa umur, rajin olahraga, jaga makanan yang kita konsumsi, dan hidup tetap semangat membuat saya tetap bisa seperti sekarang ini," kata Ikang disela-sela tampil bersama Platinoem Band di acara peresmian Gedung J5 Universitas Gunadarma di Sentra Primer Baru Timur, Cakung, Jakarta Timur, Jumat (13/4) sore.

Selain tetap energik di panggung, suami artis Marissa Haque tetap terus berkarya. bapak dua anak ini tengah merampungkan album solo terbarunya. "Saya lagi menyiapkan album solo. Judulnya In Love With. Sekarang tinggal mixing, sudah 90 persen karena ada banyak diskusi juga untuk video klip," kata Ikang.

Di album terbarunya ini, pria kelahiran Jakarta 23 Oktober 1959 menuturkan, untuk konsep musiknya mengusung konsep unplugged. "Konsepnya bukan rock, tapi unplugged karena saya ingin tampil beda. Saya kira konsep itu sesuai dengan usia dan penggemar saya sekarang karena masih bertema cinta," kata Ikang mengaku tetap optimis dan tak terlalu khawatir dan bahkan bahkan tak ambil pusing jika album barunya itu tak laku di pasaran.

"Saya hanya menargetkan untuk komunitas. Jadi tidak terlalu muluk dalam penjualan album. Kebetulan saya punya komunitas banyak. Laku 1.000 saja sudah untung," tandasnya.

Dan singgung kolaborasi bersama Platinoem Band , rocker yang juga menekuni bisnis properti ini memberikan apresiasi kepada Universitas Gunadarma yang memberikan keleluasan bagi mahasiswa?mahasiswinya untuk mengaktualisasikan dirinya di luar kuliah.

"Ini terbukti dengan terbentuknya Platinoem Band yang selama ini di suport kampusnya terbukti sudah berkarya dan menciptakan lagu The Winner yang menjadi kompilasi Ost film Negeri Lima Menara yang cukup sukses,"ujar Ikang

Pada kesempatan acara itu, Ikang selain melantunkan lagu The Winner bersama Sam, vokalis Platinoem, lewat iringan Platinoem, Ikang juga melantunkan beberapa lagu miliknya yang sudah tak asing di telinga, seperti Si Boy, Preman, hinga Permata Hitam. 

"Kami bangga bisa bernyanyi bersama legenda hidup rocker Indonesia yang hingga kini masih fit dan suaranya masih terjaga dengan baik," kata Sam, vokalis Platinoem.

"Marissa Haque: Suamiku Ikang Fawzi Alhamdulillah di Panggung Selalu Enerjik & Terus Berkarya"

Sabtu, 03 Maret 2012

Marissa Haque Fawzi: Endah Trista Agustiana, PhD is My Best Friend Since in Ohio, USA

Endah Trista Agustiana, PhD

Endah Trista Agustiana, PhD


Gender Adviser at Ministry of Agriculture and Fisheries/AusAID-Seeds of Life Program
Timor-Leste
International Trade and Development
As a LinkedIn member, you'll join 150 million other professionals who are sharing connections, ideas, and opportunities. And it's free! You'll also be able to:
  • See who you and Endah Trista Agustiana, PhD know in common
  • Get introduced to Endah Trista Agustiana, PhD
  • Contact Endah Trista Agustiana, PhD directly

Endah Trista Agustiana, PhD's Overview

Current
  • Gender Adviser at Ministry of Agriculture and Fisheries/AusAID-Seeds of Life Program, Timor-Leste
Past
  • Social Poverty and Gender Specialist at Asian Development Bank
  • Gender and Social Services Development Specialist at United Nations Development Programme
  • International Gender Expert at UNDP, Vietnam
Education
  • Ohio University
  • University of East Anglia
  • Universitas Sriwijaya
Connections
193 connections

Endah Trista Agustiana, PhD's Experience

Gender Adviser

Ministry of Agriculture and Fisheries/AusAID-Seeds of Life Program, Timor-Leste

November 2011 – Present (5 months) Timor-Leste

Social Poverty and Gender Specialist

Asian Development Bank

Government Agency; 1001-5000 employees; Banking industry
July 2011 – October 2011 (4 months) Timor-Leste

Gender and Social Services Development Specialist

United Nations Development Programme

Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
August 2010 – August 2011 (1 year 1 month)
Provide policy advisory, technical assistance and capacity development for the promotion of gender-responsive local governance and services delivery within the context of the implementation of the 10-year National Programme for Sub-national Democratic Development in Cambodia

International Gender Expert

UNDP, Vietnam

Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
June 2010 – July 2010 (2 months)
Develop a Gender Strategy for UNDP-Parliament Project and road map for the mainstreaming of gender considerations in the legislative process and the work of the National Assembly (NA) and selected People’s Councils (PCs) of Vietnam

Core Function Analysis Consultant

GTZ, Timor-Leste

Government Agency; 10,001+ employees; International Trade and Development industry
April 2010 – July 2010 (4 months)
Provide technical and management advice to develop the capacity of senior staff of National Directorates within the Ministry of Agriculture and Fisheries (MAF) of Timor-Leste in the area of Core Function Analysis and internal organizational development,
Facilitate and assist the National and District Directorates of Ministry of Agriculture and Fisheries of Timor-Leste in developing detailed tasks and functions of National and District Directorates and their departments, job descriptions for the positions of selected National and District Directors, Head of Department, and section.
In consultation with MAF-CAF II Working Group provide a set of concrete recommendations concerning human resources development, M&E and Reporting system, co-operation and coordination within and outside Ministry of Agriculture and Fisheries

Gender Expert

AusAID, Timor-Leste

Government Agency; 501-1000 employees; International Affairs industry
March 2010 – April 2010 (2 months)
 
Successfully developed a gender strategy for the AUSAID programme on Seeds of Life III

Successfully undertook a gender analysis of the proposed program assessed the impact of AUSAID-Seed of Life (SoL) programme from a gender perspective

Gender Adviser to the National Parliament of Timor Leste

UNDP

Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
December 2007 – December 2009 (2 years 1 month)
 
Facilitated the establishment of the Women Parliamentarians’ Caucus including finalizing its statute
Developed the first ever Gender Strategic Action Plan of the Women Parliamentarians’ Caucus and oversaw its implementation.

Developed the first ever Gender Strategic Action Plan of Standing Committee on Poverty Reduction, Rural and Regional Development and Gender Equality of the National Parliament

Institutionalizing gender-responsive budgeting within the National Parliament, through technical support, policy advisory, capacity building and advocacy which resulted in the integration of gender equality into the State budget debate in the National Parliament, and the allocation and approval of a gender budget by the National Parliament to support the gender work in the Parliament from 2008 until present.

Facilitated the establishment of the first ever Parliamentary Gender Resource Centre (GRC) including developing its gender strategic action plan and programme (a joint project between the National Parliament, UNDP and UNIFEM).

Facilitated the Integration of the parliamentary Gender Resource Centre as a formal organizational structure of the National Parliament under the new Parliamentary Law (15/2008, December 2008)
Produced the first ever Gender Profile of women and men parliamentarians of the National Parliament of Timor-Leste.

Organized 3 extraordinary plenary sessions with special theme on gender equality and women’s empowerment issues in the National Parliament during the year of 2008-2009.

Drafted and facilitated the adoption of the first ever Declaration on Ending Violence Against women by the Women Parliamentarians’ Caucus in the National Parliament.

Drafted and finalized the first ever Parliamentary Resolution on Gender-Responsive budgeting. The Resolution was adopted by the National Parliament on 14 July 2009

Lecturer, Faculty of Social and Political Sciences

University of Sriwijaya

1990 – 2008 (18 years)
Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
July 2007 – November 2007 (5 months)
 
Produced Project Document on Gender Mainstreaming for UNDP-MDGs Project.
Successfully organized and facilitated the MDGs campaign in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia

Provided technical assistance and advisory related to mainstreaming gender in UNDP and MDGs programme activities on regular basis through daily activities, regular meetings and discussions.

Increased awareness and capacity of the staff on mainstreaming gender perspectives into their work and on their responsibilities for gender mainstreaming through gender training for the UNDP staff.
Developed and disseminated best practices and lessons learned on gender mainstreaming.

Developed strategic partnership, coordinated and liaised with other units and agencies within the UN system and other relevant parties on gender mainstreaming and equality related issues, such as with Ministry of Women’s Empowerment, CIDA, Multi Donor Support Office, World Bank, UNFPA,
Attended various consultation and donor meetings to maintain and strengthen coordination and partnership as well as for information sharing and resource mobilization for the implementation of UNDP gender mainstreaming program

Gender Specialist

UNICEF, Jakarta, Indonesia

Nonprofit; 10,001+ employees; Nonprofit Organization Management industry
September 2007 – October 2007 (2 months)
 
Co-writer Gender and Poverty Analysis in Papua (Published by UNICEF-Jakarta in 2008).
Conducted gender and poverty analysis to gain a thorough understanding of the impact of gender and poverty on women’s and child health in focus districts of Papua (Jayapura and Jayawijaya) and IJB (Manokwari and Sorong).

Conducted field research (in-depth interviews and focus group discussion/FGD), consultations and multi-stakeholders meetings in Papua and West Papua to analyze how poverty and gender determinants affect the health and welfare of women and children, including women’s and children’s access and utilization of health care services.

Identified social, legal and political institutions and policies, opportunities and challenges concerning the promotion women’s and children’s health status, access and utilization of health services.

Examined how men’s roles in Papua and West Papua province influence health outcomes for women and children and how men can contribute to improving the health of mothers and children.

Examined gender divisions of labour and decision making between men and women and the attitudes of men and women to gender equality and women’s empowerment including their effects on health outcomes for women and men.

Reviewed and examined issues related to domestic violence, violence against women and trafficking in Papua and West Papua and their impact on women’s and children’s health status.

Provided recommendations and action steps to strengthen UNICEF’s programme implementation, management and evaluation in order to improve health outcomes for women and children with regard to poverty eradication and gender equality

Gender Consultant

Norwegian Embassy, Jakarta, Indonesia

July 2007 – August 2007 (2 months)
Successfully conducted interviews and consultation meetings with potential partners
Successfully reviewed and assessed concepts notes, project proposals that were submitted to the Norwegian Embassy

Successfully identified and consulted on the selected the partner organizations to carry out projects on women's human rights and pluralism funded by the Norwegian Embassy.

Successfully produced final report with sound gender related conclusion and recommendations for the selection of potential partners, management and implementation of the project on women's human rights and pluralism in Indonesia.

Gender Equality Specialist

CIDA, Jakarta, Indonesia

Government Agency; 1001-5000 employees; Government Administration industry
July 2007 – August 2007 (2 months)
 
Successfully developed a gender strategy for CIDA funded project on anti-corruption and good governance in the North and South Sulawesi Provinces, Indonesia

Successfully conducted gender assessment through a series of interviews and focus group discussions on gender, anti-corruption and good governance with various stakeholders in North and South Sulawesi Provinces.

Successfully completed a gender analysis and identified gender equality results and indicators.

Gender Technical Adviser, IRD, Jakarta, Indonesia

International Relief and Development (IRD)

Nonprofit; 1001-5000 employees; Nonprofit Organization Management industry
March 2007 – May 2007 (3 months)
Successfully developed a Gender strategy that was integrated into the IRD proposal for a USAID funded project in conflict/post-conflict areas in Indonesia (i.e. in Aceh, Central Sulawesi, Papua and Maluku). The proposal was approved and funded by USAID for 4 year implementation.
Produced final report with sound gender related conclusions and recommendations for IRD on future projects regarding conflict/post conflict related issues in Indonesia.

Technical assistance and advisory services were provided in developing and incorporating gender-sensitive practices in the project proposal and on gender mainstreaming and equality in conflict/post-conflict environments through daily activities, a variety of discussions and meetings and concrete recommendations.

Maintained contact, developed strategic partnerships, coordinated and liaised with individuals and organizations involved in supporting and/or promoting gender equality in conflict/post-conflict areas in Indonesia such as UNDP, KPKPST, World Bank, IOM and A Regional Forum on Women’s Leadership and Peacebuilding in Central Sulawesi, Maluku and North Maluku.

Gender Equality Adviser

Hickling/CIDA

January 2007 – March 2007 (3 months)
Mainstreamed gender issues into CIDA’s Governance Reform Support II (GRSII)

Designed and managed GRSII sub-project on Promoting Gender Equality Mandates into the Public Financial Management System at Central and Regional Levels in Indonesia (Gender responsive budgeting initiatives).

Provided guidance, advice and inputs to group leaders and other advisers of the GRSII concerning the incorporation of gender equality into GRSII sub projects.

Contributed to periodic updates of the GRSII strategic framework and annual plans particularly with regard to helping ensure that the framework incorporates provisions for promoting gender equality within the framework of GRSII support for decentralization reform;

Identified priority areas for support within the GRSII strategic framework including gender equality;
Assessed counterpart organization’s capacity and practices for implementing gender equality commitments in the area of GRS planned support, and identified opportunities and requirements to increase gender equality;

Prepared Results Based Management (RBM) reports to CIDA on sub-project progress and lessons learned and supported preparation of periodic project progress reports and final project report to CIDA;

Maintained contact, developed strategic partnership, coordinate and liaise with individuals and organizations involved in supporting and/or promoting gender equality in Indonesia: i) GOI officials at central and regional level; ii) CIDA and other Canadian Embassy officials as well as other members of the donor community; iii) professionals engaged in providing support to Indonesia’s gender mainstreaming effort; iv) NGOs involved in promoting gender equality.
Government Agency; 1001-5000 employees; Government Administration industry
February 2007 – February 2007 (1 month)
 
Successfully integrated gender aspects into CIDA-DSF/SOfEI joint scoping mission on governance reform initiatives (decentralization, poverty reduction and anti-corruption) in Jakarta, South Sulawesi and North Sulawesi through clear guidance, advice and inputs.

Conducted field work and facilitated Focus Group Discussions (FGD) on decentralization, poverty reduction and anti-corruption with government, parliamentarians and civil society in Makassar and Manado;

Produced final report which successfully integrated gender perspectives into CIDA’s concept papers for the development of project on good governance (decentralization, poverty reduction and anti-corruption) in South Sulawesi and North Sulawesi

Gender Specialist-Postconflict-Peacebuilding

UNDP/CPRU-Multi Donor Support Facilities Office, Jakarta, Indonesia

Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
September 2005 – August 2006 (1 year)
 
Successfully led the design, implementation and monitoring of the UNDP-Multi Donor Support Office for Eastern Indonesia (SOfEI)-World Bank Joint programme on Women's Leadership and Peacebuilding in conflict affected areas.

Successfully facilitated the first ever establishment of a Regional Forum on Women’s Leadership and Peacebuilding in Central Sulawesi, Maluku and North Maluku-the first ever forum on women’s leadership and peacebuilding in conflict affected areas in Indonesia (2005).

Successfully oversaw the 2nd phase of UNDP/CPRU-Multi Donor Support Office for Eastern Indonesia (SOfEI) /World Bank joint programme on Women’s Leadership and Peacebuilding in conflict/post conflict areas of North Maluku, Maluku and Central Sulawesi in Indonesia ($400,000-UNDP-SOfEI cost sharing project).

Participated in the development and completion of the 2007-2011 Gender strategy for the UNDP-Bureau for Crisis Prevention and Recovery (held in London, 12-15 September 2006)
Provided policy and technical advice related to gender mainstreaming for UNDP programmes and projects. Also supported the implementation of a gender mainstreaming strategy for the Multi Donor Decentralization Support
Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
August 2004 – December 2004 (5 months)
 
Successfully undertook and completed a gender assessment which included a mapping of women's organizations, donors and other agencies within the UN, international and local NGOs working on women, gender, conflict, peace and development issues.

Assessed and identified women's peace-building activities, capacities, strategies and networks on women/gender, conflict peace and development.

Produced project document (prodoc) on Women's peacebuilding including its Strategic Result Framework Project which resulted in the approval and successful implementation of UNDP-World Bank joint project on Women's leadership and peace building for conflict/post-conflict areas of Central Sulawesi, Maluku and North Maluku in Indonesia.

Regularly advised and provided critical information to the unit and immediate supervisor and other units/agencies within the UN system on women, gender mainstreaming, conflict and peacebuilding through daily activities, and regular meetings.

Produced a technical report with concrete recommendations that identified implementing agencies for the UNDP's programme on women and peacebuilding.

Facilitated and presented a paper on women and peacebuilding at the National Consultative Workshop on Peace and Development Assessment (PDA).

Conducted consultative meetings and liaised with agencies within the UN system (i.e. UNDP, UNIFEM, UNFPA) and other International Organizations (World Bank, USAID, European Union Commission, CIDA, SIDA, etc), university, local and INGOs and other partners on gender, conflict, peace and development issues.

Produced a publication on women and peacebuilding in North Maluku, Central Sulawesi and Maluku in Indonesia

http://www.undp.org/cpr/documents/prevention/integrate/country_app/indonesia/Indonesia_-_Thematic_Assessement,_Women_and_Peace-Building.pdf
Nonprofit; 10,001+ employees; International Affairs industry
March 2004 – May 2004 (3 months)
 
Successfully developed methodology and tools and conducted research on the gender impact of conflict, women's understanding of gender, conflict and peace and their experiences and coping mechanisms in response to violent conflict in Central Sulawesi, women's roles in conflict and peacebuilding, and women's and men’s perceptions and attitudes towards peacebuilding. This included an assessment that produced organization mapping on the roles and capacities of women's organizations and networks for peacebuilding efforts,

Conducted consultative meetings and identified the views of Government of Indonesia at the provincial, district and sub-district levels on women's needs, the impact of the conflict and the role of women as peace-builders and community leaders.

Produced a technical report that consisted of an analysis on the impact of conflict from a gender perspective and women's roles as peace-builders and concrete recommendations for strengthening women's activities, organizations, networks and participation in the formal peace processes in order to support the development of programs and strategies on women and peacebuilding programs in Central Sulawesi, Indonesia.

Wrote a publication on women and peacebuilding in Central Sulawesi and North Maluku.
Educational Institution; 1001-5000 employees; Higher Education industry
2000 – 2001 (1 year)

Gender Research and Training Coordinator

Women's Studies Center, Research Institute, Sriwijaya University, Indonesia

1997 – 1998 (1 year)

Researcher

Women's Studies Center, Research Institute, Sriwijaya University

1990 – 1998 (8 years)

Endah Trista Agustiana, PhD's Education

Ohio University

Ph.D, Interpersonal/Cross-cultural Communication and Women's Studies

1999 – 2005
GPA: 3.8

Doctoral Dissertation: "Living in the Crisis: Women's Experiences of Violent Conflict in Poso, Central Sulawesi, Indonesia

University of East Anglia

M.A. GAD, Gender Analysis and Development Studies

1993 – 1994
M.A Thesis: “Do Income Generating Projects Benefit Women?: An Experience from Indonesia"

Universitas Sriwijaya

Dra/B.A, Social and Political Sciences/Public Administration

1986 – 1990
Graduated with "Distinction" (Cumlaude)

Entri Populer